Mengenal Tata Sugiarta dan Migimo, platform fintech yang berpihak pada pekerja migran dengan model Economic Sharing Remittance dan Unit Modal Penyertaan. Inovasi yang mengembalikan keuntungan kepada pahlawan devisa.
Ada satu pertanyaan yang mungkin jarang muncul di ruang-ruang diskusi teknologi: bagaimana dengan financial technology untuk pekerja migran? Selama ini, kita mendengar banyak tentang fintech untuk UMKM, fintech untuk pembiayaan rumah, fintech untuk investasi ritel. Tapi bagaimana dengan 5 juta Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang tersebar di 86 negara, yang setiap tahun menyumbang lebih dari Rp253 triliun untuk negeri ini? Apakah mereka mendapatkan layanan keuangan yang adil? Apakah mereka memiliki akses ke teknologi finansial yang benar-benar memahami kebutuhan mereka?
Jawabannya, selama ini, adalah belum. Para pahlawan devisa ini masih berurusan dengan biaya kirim yang tinggi, kurs yang tidak menguntungkan, dan sistem yang tidak transparan. Mereka menghasilkan devisa, tetapi tidak menikmati keuntungan dari uang yang mereka kirimkan. Mereka punya uang, tetapi tidak memiliki sistem untuk membangun usaha sambil tetap bekerja di luar negeri.
Sosok yang selama beberapa tahun terakhir berupaya mengubah realitas itu adalah Tata Sugiarta. Seorang mantan buruh tani di Jepang yang kini menjadi penggerak di balik inovasi financial technology untuk pekerja migran. Lewat perjalanan hidupnya yang unik, ia membuktikan bahwa fintech tidak harus selalu tentang kecepatan transaksi atau kemudahan antarmuka. Fintech juga bisa tentang keadilan, pemberdayaan, dan membangun masa depan yang lebih cerah bagi mereka yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga di kampung halaman.
Artikel ini akan mengupas bagaimana Tata Sugiarta dan masa depan financial technology migran yang ia rintis melalui Migimo. Sebuah platform yang tidak hanya memudahkan pengiriman uang, tetapi juga mengembalikan keuntungan kepada para pekerjanya. Sebuah visi tentang masa depan di mana teknologi finansial benar-benar berpihak pada mereka yang paling membutuhkan.
Untuk memahami inovasi financial technology yang dikembangkan Tata Sugiarta, kita harus mengenal terlebih dahulu sosok di baliknya. Karena inovasi ini tidak lahir dari ruang kuliah atau ruang rapat korporasi. Ia lahir dari pengalaman hidup yang nyata, dari keringat yang pernah ia teteskan di ladang pertanian Jepang.
Tata Sugiarta lahir di Kuningan, 12 Mei 1981. Ia dibesarkan di lingkungan pesantren yang disiplin—Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Tangerang. Di pesantren, ia belajar tentang tanggung jawab, kebersamaan, dan nilai-nilai yang kelak membentuk karakternya sebagai pemimpin. Prestasinya gemilang: tiga tahun berturut-turut menjadi juara kelas, dan lulus dengan predikat Mumtaz, setara dengan summa cumlaude.
Dari pesantren, ia melanjutkan ke UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kemampuan berbahasa asing—Inggris, Arab, dan kemudian Jepang—menjadi bekal penting untuk perjalanan hidupnya.
Sebelum menjadi pekerja migran, karier Tata cukup mentereng. Ia pernah menjadi Program Director di Pilar Radio FM Cirebon, PR and Event Manager di Green Production Bandung, serta Project Officer di PT Taria Jakarta dan Entrepreneur University. Tapi pada 2014, ia mengambil keputusan yang mengejutkan banyak orang: menjadi Pekerja Migran Indonesia di Jepang melalui program JA Agriculture.
Tiga tahun di negeri Sakura bukanlah masa yang mudah. Ia bekerja di sektor pertanian, bangun pagi buta, bekerja di ladang dengan disiplin tinggi, dan hidup dalam keterbatasan bahasa serta budaya. Tapi di sanalah ia menyaksikan langsung realitas yang dihadapi para pekerja migran. Ia melihat teman-teman sesama PMI yang kesulitan mengirim uang dengan biaya yang wajar. Ia melihat mereka yang tidak memiliki tabungan setelah bertahun-tahun bekerja. Ia melihat mereka yang pulang ke kampung halaman tanpa arah yang jelas.
Pengalaman inilah yang menjadi fondasi dari Tata Sugiarta dan masa depan financial technology migran yang ia cita-citakan. Ia tidak perlu membaca laporan atau studi kelayakan untuk memahami masalahnya. Ia mengalaminya sendiri.
“Saya tahu bagaimana rasanya mengirim uang dengan biaya yang tidak transparan. Saya tahu bagaimana rasanya tidak punya sistem untuk menabung atau berinvestasi. Saya tahu bagaimana rasanya pulang tanpa kepastian. Dari pengalaman itulah saya tahu bahwa financial technology untuk migran harus berbeda. Harus adil. Harus berpihak pada mereka yang menghasilkan uang itu.”
Setelah pulang dari Jepang pada 2017, Tata tidak langsung membangun platform fintech. Ia memilih untuk belajar dulu. Dan jalan yang ia pilih mungkin tidak terduga: ia menjadi Master Trainer di Google Gapura Digital di Bandung.
Selama lima tahun, dari 2019 hingga 2024, ia mengajar digital marketing dari level basic hingga advance. Lebih dari 10.000 jam pelajaran ia curahkan. Di sinilah ia menguasai seluk-beluk teknologi digital—ilmu yang kelak menjadi fondasi dari inovasi financial technology yang ia kembangkan untuk pekerja migran.
Di sela-sela kesibukannya sebagai trainer, pada 2018 ia mendirikan PT Hana Honey Internasional dan meluncurkan Syahoney, brand madu lokal dan impor. Mengapa madu? Bagi Tata, Syahoney adalah prototipe. Ia ingin membuktikan bahwa seorang mantan pekerja migran bisa membangun bisnis yang profesional, bersaing di pasar, dan memberdayakan orang lain. Ia juga ingin menunjukkan bahwa dengan digital marketing yang tepat, produk lokal bisa mendunia.
Dua tahun kemudian, pada 2020, ia mendirikan PT Niaga Teknologi Indonesia, perusahaan ekspor impor yang memperluas jangkauan bisnisnya. Tapi puncak dari perjalanan ini terjadi pada tahun 2024, ketika ia resmi mendirikan Koperasi Digital Sukses Bersama Migimo dan menjabat sebagai Ketua. Sebuah langkah yang menyatukan seluruh pengalamannya: sebagai mantan PMI, sebagai ahli digital marketing, dan sebagai pengusaha.
Sebelum kita membahas bagaimana Tata Sugiarta Founder & CEO Migimo merancang masa depan financial technology migran, penting untuk memahami tiga masalah besar yang selama ini dihadapi oleh PMI.
Pertama, remitansi yang sulit dan tidak adil. Biaya kirim yang tinggi, kurs yang tidak menguntungkan, dan ketidakjelasan alur biaya membuat uang hasil jerih payah mereka “hilang” dalam proses pengiriman. Tidak ada transparansi, tidak ada keadilan. Seorang PMI yang mengirimkan uang Rp10 juta bisa kehilangan ratusan ribu rupiah hanya dalam proses pengiriman. Dan keuntungan dari proses itu dinikmati oleh pihak ketiga—bank, money changer, atau jasa pengiriman uang—bukan oleh pekerja migran itu sendiri.
Kedua, pekerja migran yang menghasilkan devisa justru tidak menikmati keuntungannya. Mereka menjadi sumber pendapatan negara yang luar biasa, tetapi secara individu, mereka tidak memiliki akumulasi kekayaan yang memadai. Uang yang mereka kirim cenderung habis untuk konsumsi, bukan untuk investasi. Tidak ada sistem yang membantu mereka menabung atau mengalokasikan dana untuk masa depan.
Ketiga, pekerja migran punya uang, tapi tidak punya sistem untuk membangun usaha sambil tetap bekerja di luar negeri. Bagaimana mungkin seseorang yang bekerja di restoran di Hong Kong atau di pabrik di Taiwan bisa memulai bisnis di kampung halaman? Selama ini, tidak ada sistem yang memungkinkan itu. Mereka harus pulang terlebih dahulu untuk memulai usaha, yang berarti kehilangan penghasilan tetap.
Ketiga masalah inilah yang ingin dipecahkan oleh Tata Sugiarta melalui inovasi financial technology yang ia kembangkan. Bukan sekadar aplikasi pengiriman uang, tetapi sebuah sistem yang mengembalikan keuntungan kepada pekerja migran dan memungkinkan mereka membangun masa depan tanpa harus berhenti bekerja.
Nama Migimo mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang. Tapi bagi para pekerja migran yang sudah bergabung, ini adalah sebuah terobosan. Migimo adalah singkatan dari Migrant Mobile, sebuah aplikasi terintegrasi yang dirancang khusus untuk kebutuhan pekerja migran Indonesia.
Tapi apa yang membedakan Migimo dari platform fintech lainnya? Jawabannya ada pada dua fitur utama yang menjadi inti dari visi Tata Sugiarta dan masa depan financial technology migran.
Ini adalah fitur yang mungkin paling revolusioner. Economic Sharing Remittance adalah model pengiriman uang di mana keuntungan dari margin kurs dan biaya kirim tidak sepenuhnya diambil oleh platform, tetapi dikembalikan kepada pekerja migran sebagai anggota koperasi.
Selama ini, ketika seorang PMI mengirim uang ke Indonesia, keuntungan dari proses tersebut dinikmati oleh pihak ketiga—bank, money changer, atau jasa pengiriman uang. Para pekerja migran yang mengirim uang justru tidak mendapatkan bagian apa pun.
Migimo membalik logika itu. Ketika anggota mengirim uang melalui aplikasi Migimo, sebagian dari margin kurs dan biaya kirim—sekitar 70 persen—dikembalikan kepada anggota dalam bentuk pendapatan bulanan per pengguna aktif. Sisanya, 30 persen, masuk ke koperasi untuk keberlanjutan operasional.
Ini adalah model yang berbeda. Ini adalah model di mana teknologi finansial tidak lagi menjadi alat untuk mengambil keuntungan dari pengguna, tetapi menjadi alat untuk mengembalikan keuntungan kepada mereka. Ini adalah model yang mungkin akan menjadi masa depan financial technology migran.
Jika fitur pertama berbicara tentang keadilan dalam proses pengiriman uang, fitur kedua berbicara tentang bagaimana uang itu dapat dikelola secara produktif.
Unit Modal Penyertaan memungkinkan anggota Migimo untuk menyertakan modalnya ke dalam berbagai usaha produktif yang dikelola oleh koperasi. Mereka tidak perlu pulang ke Indonesia untuk memulai bisnis. Mereka bisa tetap bekerja di luar negeri sambil uang mereka “bekerja” untuk membangun usaha di tanah air.
Ini adalah terobosan yang signifikan. Selama ini, uang yang dikirim pekerja migran cenderung habis untuk konsumsi. Dengan Unit Modal Penyertaan, uang itu bisa menjadi modal produktif yang menciptakan nilai tambah jangka panjang. Seorang PMI yang bekerja di Taiwan bisa memiliki usaha madu di Kuningan. Seorang PMI di Hong Kong bisa memiliki usaha kerajinan di Jawa Barat. Uang mereka tidak hanya dikirim, tetapi juga dikembangkan.
Ada beberapa alasan mengapa model yang dikembangkan Tata Sugiarta Founder Migimo ini bisa menjadi masa depan financial technology migran.
Pertama, model ini berpihak pada keadilan. Selama ini, financial technology sering kali dirancang untuk memaksimalkan keuntungan platform. Economic Sharing Remittance membalik logika itu. Keuntungan dikembalikan kepada pengguna. Ini adalah model yang berkelanjutan karena menciptakan loyalitas dan kepercayaan yang tinggi dari komunitas.
Kedua, model ini memberdayakan, bukan sekadar melayani. Financial technology konvensional hanya membantu pengguna mengirim uang atau melakukan transaksi. Migimo, melalui Unit Modal Penyertaan, membantu pengguna membangun masa depan. Ini adalah perbedaan fundamental: melayani kebutuhan sesaat versus memberdayakan untuk jangka panjang.
Ketiga, model ini dibangun oleh seseorang yang memahami komunitasnya. Tata Sugiarta bukan pendiri yang datang dari luar. Ia adalah bagian dari komunitas yang ia layani. Ini menciptakan kepercayaan yang tidak bisa dibeli dengan iklan atau promosi.
Dalam dokumen profil Migimo, ada pernyataan yang menarik: “Mereka yang menghasilkan devisa, maka merekalah yang seharusnya menikmati keuntungannya.” Kalimat sederhana ini merangkum seluruh filosofi di balik inovasi financial technology yang dikembangkan.
Meskipun Migimo baru berdiri resmi pada akhir 2024, dampaknya telah mulai terlihat. Hingga kini, platform ini telah memiliki lebih dari 100 pengguna awal, dengan perwakilan hingga ke Pennsylvania, Amerika Serikat. Traction ini tidak datang dari iklan besar-besaran, tetapi dari rekomendasi mulut ke mulut di antara sesama pekerja migran.
Migimo juga telah mendapatkan berbagai pengakuan yang menunjukkan bahwa model ini memiliki prospek yang kuat. Pada tahun 2025, Migimo masuk dalam Top 7 Startup Lab Jakarta, sebuah program akselerasi bergengsi yang menyeleksi startup-startup terbaik. Migimo juga meraih penghargaan Best Impact & Sustainability di ICEFF 2025, sebuah bukti bahwa dampak sosial yang dihasilkan diakui secara luas.
Selain itu, Migimo masuk dalam Top 38 Koperasi Layak Didanai SIAP Akselerasi 2025 dan mengikuti SIAP Inkubasi 2025, sebuah program pengembangan kapasitas untuk koperasi-koperasi potensial.
Dzulfikar Ahmad Tawalla, Wakil Menteri KemenP2MI, pernah mengatakan:
“5 juta Pekerja Migran Indonesia di 86 negara menyumbang lebih dari Rp253 triliun remitansi setiap tahun, tapi 3 masalah besar masih terjadi. Mereka disebut pahlawan devisa, tapi belum punya rumah ekonomi digitalnya sendiri.”
Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa apa yang dilakukan Tata Sugiarta bukan sekadar inisiatif pribadi. Ini adalah jawaban atas kebutuhan yang telah lama dirasakan oleh jutaan pekerja migran.
Perjalanan Tata Sugiarta Founder & CEO Migimo membangun inovasi financial technology untuk migran tidak terjadi dalam semalam. Ada proses panjang yang sistematis. Berikut adalah langkah-langkah strategis yang ia lakukan:
Migimo bukan hanya tentang pengiriman uang dan investasi. Tata Sugiarta merancang platform ini sebagai ekosistem yang utuh, yang mencakup berbagai layanan tambahan yang dibutuhkan oleh pekerja migran sehari-hari. Berikut adalah ekosistem layanan yang tersedia di Migimo:
Semua layanan ini dirancang dengan satu filosofi: dari migran, oleh migran, dan untuk migran. Setiap fitur dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata yang diidentifikasi dari interaksi dengan komunitas.
Apa yang dimaksud dengan Tata Sugiarta dan masa depan financial technology migran?Tata Sugiarta dan masa depan financial technology migran merujuk pada visi Tata dalam mengembangkan Migimo, sebuah platform fintech yang tidak hanya memudahkan pengiriman uang tetapi juga mengembalikan keuntungan kepada pekerja migran melalui model Economic Sharing Remittance dan menyediakan Unit Modal Penyertaan untuk investasi produktif.
Siapa Tata Sugiarta Founder & CEO Migimo?Tata Sugiarta Founder & CEO Migimo adalah mantan pekerja migran Indonesia di Jepang yang kemudian menjadi master trainer Google Gapura Digital. Ia mendirikan Migimo pada tahun 2024 sebagai koperasi digital yang memberdayakan pekerja migran melalui pendekatan financial technology yang adil dan berkelanjutan.
Apa perbedaan Migimo dengan aplikasi fintech lainnya?Perbedaan utamanya terletak pada model Economic Sharing Remittance, di mana keuntungan dari margin kurs dan biaya kirim dikembalikan kepada anggota. Migimo juga menyediakan Unit Modal Penyertaan yang memungkinkan pekerja migran berinvestasi dalam usaha produktif tanpa harus pulang ke Indonesia.
Apakah Migimo hanya untuk pekerja migran yang sedang berada di luar negeri?Tidak. Migimo terbuka untuk pekerja migran yang sedang bekerja di luar negeri maupun yang telah pulang ke Indonesia. Fokus utamanya adalah menciptakan keberlanjutan ekonomi bagi PMI di setiap tahap perjalanan mereka.
Bagaimana cara bergabung dengan Migimo?Anda dapat mengunduh aplikasi Migimo di Google Play Store atau mengunjungi situs resmi migimo.id untuk informasi lebih lanjut tentang keanggotaan.
Untuk memahami lebih dalam tentang perjalanan, visi, dan misi yang diusung oleh Tata Sugiarta, saya mengajak Anda untuk mengunjungi halaman-halaman berikut:
Financial technology telah mengubah cara kita bertransaksi, menabung, dan berinvestasi. Tapi selama ini, transformasi itu belum sepenuhnya menjangkau mereka yang paling membutuhkan: para pekerja migran Indonesia. Mereka adalah pahlawan devisa yang setiap tahun menyumbang ratusan triliun untuk negeri ini, tetapi sering kali tidak mendapatkan akses ke layanan keuangan yang adil.
Tata Sugiarta hadir untuk mengubah itu. Lewat Migimo, ia membangun financial technology yang berbeda. Bukan fintech yang mengambil keuntungan dari pengguna, tetapi fintech yang mengembalikan keuntungan kepada mereka. Bukan fintech yang hanya melayani kebutuhan sesaat, tetapi fintech yang memberdayakan untuk jangka panjang.
Sebagai Tata Sugiarta Founder Migimo dan Tata Sugiarta Founder Syahoney, ia telah membuktikan bahwa masa depan financial technology migran adalah masa depan yang lebih adil. Masa depan di mana mereka yang menghasilkan devisa, menikmati keuntungannya. Masa depan di mana pekerja migran punya uang, dan juga punya sistem untuk membangun usaha sambil tetap bekerja di luar negeri. Masa depan di mana teknologi finansial benar-benar menjadi alat pemberdayaan, bukan eksploitasi.
“Saya tidak ingin disebut sebagai pendiri fintech yang sukses. Saya ingin disebut sebagai seseorang yang membantu pekerja migran menemukan jalan mereka sendiri menuju kemandirian finansial. Karena pada akhirnya, masa depan financial technology migran bukan tentang seberapa canggih teknologinya. Tapi tentang seberapa banyak orang yang bisa merasakan keadilan dari teknologi itu.”
Itulah Tata Sugiarta dan masa depan financial technology migran. Sebuah visi yang sederhana namun mendalam. Sebuah perjalanan yang dimulai dari ladang pertanian di Jepang, dan kini melangkah menuju masa depan di mana 5 juta pahlawan devisa memiliki rumah ekonomi digital mereka sendiri.
Dan seperti yang selalu ia katakan, ini baru awal.
Berita Viral Hari Ini
Pengusaha sosial, inovator digital, dan penggerak pemberdayaan ekonomi pekerja migran Indonesia.
Berlangganan newsletter kami untuk mendapatkan berita dan update terbaru.
© 2024 Tata Sugiarta. Hak cipta dilindungi.