Tata Sugiarta, mantan pekerja migran di Jepang, membangun Migimo dan Syahoney untuk menciptakan ekosistem digital yang memberdayakan 5 juta Pekerja Migran Indonesia. Tujuannya adalah memungkinkan mereka berinvestasi dan membangun aset dari jarak jauh, bukan sekadar mengirim uang, demi martabat ekonomi yang sejati.
Tata Sugiarta - Bandung, Senin, 6 April 2026 15:41 WIB.
Seorang pria kelahiran Kuningan, mantan pekerja migran di Negeri Sakura, yakin bahwa masa depan itu bukan hanya mimpi. Namanya Tata Sugiarta. Ia tidak hanya membayangkan, tetapi juga sedang membangun fondasinya. Melalui dua brand yang ia dirikan—Migimo dan Syahoney—ia merancang sebuah ekosistem digital yang dirancang khusus untuk memberdayakan para pahlawan devisa ini.
Siapa Tata Sugiarta? Ia adalah Tata Sugiarta Founder Migimo, Tata Sugiarta Founder Syahoney, dan saat ini menjabat sebagai Ketua Koperasi Digital Sukses Bersama Migimo. Perjalanan hidupnya—dari pesantren, panggung media, hingga menjadi pekerja migran di Jepang, lalu bertransformasi menjadi master trainer Google dan entrepreneur—memberinya perspektif unik tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh komunitas PMI.
Artikel ini akan mengupas Tata Sugiarta dan masa depan ekosistem migran Indonesia yang sedang ia bangun. Sebuah visi tentang rumah ekonomi digital yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada mereka yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga dan negara.
Untuk memahami visi besar Tata Sugiarta tentang masa depan ekosistem migran Indonesia, kita harus melihat dari mana ia berasal. Tata Sugiarta lahir di Kuningan, 12 Mei 1981. Ia dibesarkan di lingkungan pesantren yang sangat disiplin, Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Tangerang. Di sana ia belajar tentang nilai kebersamaan, tanggung jawab, dan ketekunan. Prestasinya gemilang: tiga tahun berturut-turut menjadi juara kelas, dan lulus dengan predikat Mumtaz—setara dengan summa cum laude.
Setelah pesantren, ia melanjutkan ke UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kemampuan berbahasa Inggris, Arab, dan kemudian Jepang menjadi bekal penting. Sebelum menjadi pekerja migran, Tata sudah malang melintang di dunia media dan event organizer. Ia pernah menjadi Program Director di Pilar Radio FM Cirebon, PR and Event Manager di Green Production Bandung, serta Project Officer di PT Taria Jakarta dan Entrepreneur University.
Namun pada 2014, ia mengambil keputusan yang mengubah segalanya: meninggalkan karier cemerlangnya untuk menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Jepang. Bukan karena terpaksa, tetapi karena panggilan jiwa untuk belajar dari nol, merasakan langsung kehidupan di perantauan, dan kelak pulang dengan misi mulia.
Ia menyaksikan langsung bagaimana teman-teman sesama PMI kesulitan mengirim uang dengan biaya wajar, tidak memiliki tabungan setelah bertahun-tahun bekerja, dan pulang tanpa arah. Dari situlah ia mulai merumuskan sebuah pertanyaan: bagaimana jika ada ekosistem yang memungkinkan mereka tidak hanya mengirim uang, tetapi juga membangun aset dan usaha dari jarak jauh?
“Saya pulang dari Jepang bukan hanya dengan tabungan, tetapi dengan sebuah keyakinan: para pekerja migran butuh rumah ekonomi digitalnya sendiri. Butuh sistem yang tidak hanya memudahkan mereka mengirim uang, tetapi juga memberdayakan mereka untuk memiliki masa depan.”
Keyakinan itulah yang menjadi fondasi dari Tata Sugiarta dan masa depan ekosistem migran Indonesia yang sedang ia bangun.
Sebelum membahas solusi, penting untuk memahami mengapa ekosistem yang ada saat ini tidak berjalan dengan baik. Tata Sugiarta mengidentifikasi tiga masalah besar yang saling terkait.
Pertama, remitansi yang sulit dan tidak adil. Setiap tahun, PMI menyumbang lebih dari Rp253 triliun. Namun sebagian besar keuntungan dari biaya kirim dan selisih kurs dinikmati pihak ketiga, bukan oleh para pengirim. Mereka disebut pahlawan devisa, tetapi tidak pernah menikmati “hadiah” dari perjuangan mereka.
Kedua, lingkaran setan yang tak pernah putus. Pekerja migran berangkat, bekerja, mengirim uang, pulang, uang habis untuk konsumsi, lalu berangkat lagi. Mereka tidak memiliki sistem untuk membangun usaha di Indonesia sambil tetap bekerja di luar negeri.
Ketiga, ketiadaan rumah ekonomi digital. Dalam pernyataan yang menggetarkan, Wakil Menteri KemenP2MI, Dzulfikar Ahmad Tawalla, pernah mengatakan: “Mereka disebut pahlawan devisa, tapi belum punya rumah ekonomi digitalnya sendiri.”
Ketiga masalah ini tidak bisa dipecahkan dengan solusi parsial. Butuh sebuah ekosistem yang utuh—yang menghubungkan layanan keuangan, investasi, edukasi, dan komunitas—dalam satu platform terintegrasi. Inilah yang menjadi inti dari visi Tata Sugiarta Founder dan CEO Migimo.
Nama Migimo adalah singkatan dari Migrant Mobile, sebuah aplikasi terintegrasi yang dirancang khusus untuk kebutuhan pekerja migran Indonesia. Tapi lebih dari sekadar aplikasi, Migimo adalah ekosistem. Tata Sugiarta merancangnya dengan dua fitur utama yang menjadi fondasi masa depan ekonomi migran.
Ini adalah model pengiriman uang di mana keuntungan dari margin kurs dan biaya kirim tidak sepenuhnya diambil oleh platform. Sekitar 70 persen dikembalikan kepada anggota dalam bentuk pendapatan bulanan per pengguna aktif. Prinsipnya sederhana: mereka yang menghasilkan devisa, maka merekalah yang seharusnya menikmati keuntungannya.
Fitur ini memungkinkan pekerja migran untuk menyertakan modalnya ke dalam usaha produktif di Indonesia tanpa harus pulang. Seorang PMI di Hong Kong bisa memiliki bagian dari bisnis madu di Kuningan, misalnya. Uang mereka tidak hanya dikirim, tetapi juga dikembangkan.
Kedua fitur ini bekerja secara sinergis. Economic Sharing Remittance menciptakan arus keuntungan yang adil, sementara Unit Modal Penyertaan memberikan ruang bagi anggota untuk mengakumulasi kekayaan secara produktif. Inilah yang membedakan Migimo dari sekadar aplikasi kirim uang biasa.
Berikut adalah komponen-komponen ekosistem yang dibangun Tata Sugiarta melalui Migimo:
Semua ini terintegrasi dalam satu aplikasi, dengan filosofi: dari migran, oleh migran, dan untuk migran.
Tata Sugiarta tidak hanya bermimpi. Ia merancang dan menjalankan langkah-langkah konkret. Berikut adalah langkah-langkah strategis yang ia lakukan untuk mewujudkan visinya:
Langkah-langkah ini membuktikan bahwa Tata Sugiarta Founder dan CEO Migimo bukan sekadar pemimpi, tetapi seorang eksekutor yang konsisten.
Visi Tata Sugiarta tentang masa depan ekosistem migran Indonesia tidak hanya tinggal di atas kertas. Migimo telah mendapatkan berbagai pengakuan yang menunjukkan bahwa model ini memiliki prospek kuat.
Pada tahun 2025, Migimo masuk dalam Top 7 Startup Lab Jakarta, sebuah program akselerasi bergengsi. Migimo juga meraih penghargaan Best Impact & Sustainability di ICEFF 2025, bukti bahwa dampak sosial yang dihasilkan diakui secara luas. Selain itu, Migimo masuk dalam Top 38 Koperasi Layak Didanai SIAP Akselerasi 2025 dan mengikuti SIAP Inkubasi 202es.
Lebih penting lagi, dampak di level individu mulai terasa. Anggota Migimo tidak hanya mendapatkan layanan pengiriman uang yang lebih adil, tetapi juga mulai merasakan pendapatan bulanan dari setiap transaksi. Beberapa anggota bahkan telah memanfaatkan Unit Modal Penyertaan untuk memulai usaha kecil-kecilan di kampung halaman.
“Saya melihat sendiri bagaimana seorang anggota di Pennsylvania bisa mulai memiliki tabungan investasi. Ia tidak hanya mengirim uang ke keluarga, tetapi juga membangun aset untuk masa depannya. Itulah yang saya sebut masa depan ekosistem migran.”
Sebelum Migimo, Tata Sugiarta telah membangun Syahoney, brand madu lokal dan impor. Syahoney bukan sekadar bisnis madu. Ia adalah prototipe dari ekosistem yang ia impikan. Tata melibatkan petani madu lokal dalam rantai pasok, memastikan mereka mendapat harga adil, dan menggunakan digital marketing untuk memperluas pasar.
Syahoney juga menjadi salah satu usaha produktif yang dapat diakses oleh anggota Migimo melalui Unit Modal Penyertaan. Dengan kata lain, seorang PMI yang bergabung dengan Migimo bisa memiliki bagian dari Syahoney dan mendapatkan bagi hasil setiap bulan. Ini adalah contoh nyata bagaimana ekosistem yang terintegrasi bekerja.
Tata Sugiarta Founder Syahoney membuktikan bahwa seorang mantan pekerja migran bisa membangun brand profesional sekaligus memberdayakan komunitas. Dan kini, Syahoney menjadi bagian penting dari ekosistem Migimo yang lebih besar.
Tata Sugiarta menyadari bahwa tidak ada ekosistem yang kuat tanpa kolaborasi. Ia membangun jaringan dengan regulator (KemenP2MI), mitra teknologi, lembaga keuangan, dan berbagai komunitas PMI. Pendekatan kolaboratif ini menjadi salah satu kekuatan utama Migimo.
Dalam dokumen profil Migimo, tertulis: “Migimo membangun ekosistem kolaboratif yang menghubungkan regulator, mitra teknologi, ekosistem dan komunitas Pekerja Migran Indonesia untuk menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan.”
Tata percaya bahwa masa depan ekosistem migran Indonesia tidak bisa dibangun sendirian. Butuh gerakan kolektif, butuh partisipasi semua pihak. Ia selalu mengatakan: “Sukses sejati bukan tentang seberapa besar yang bisa saya lakukan sendiri, tetapi tentang seberapa banyak orang yang saya ajak untuk bergerak bersama.”
Berikut adalah pilar-pilar kolaborasi dalam ekosistem Migimo:
1. Apa yang dimaksud dengan Tata Sugiarta dan masa depan ekosistem migran Indonesia?Ini adalah visi Tata Sugiarta untuk menciptakan ekosistem digital yang memberdayakan pekerja migran Indonesia melalui layanan keuangan adil (Economic Sharing Remittance), investasi produktif (Unit Modal Penyertaan), edukasi, dan komunitas. Tujuannya agar PMI tidak hanya mengirim uang, tetapi juga membangun aset dan usaha dari jarak jauh.
2. Siapa Tata Sugiarta Founder dan CEO Migimo?Tata Sugiarta Founder dan CEO Migimo adalah mantan pekerja migran Indonesia di Jepang, master trainer Google Gapura Digital, dan pendiri Syahoney. Ia menjabat sebagai Ketua Koperasi Digital Sukses Bersama Migimo, yang mengusung konsep Economic Sharing Remittance.
3. Bagaimana Migimo membedakan dirinya dari platform pengiriman uang lain?Perbedaan utamanya adalah Economic Sharing Remittance, di mana sekitar 70 persen keuntungan dari margin kurs dan biaya kirim dikembalikan kepada anggota. Migimo juga menyediakan Unit Modal Penyertaan untuk investasi produktif, serta berbagai layanan pendukung seperti pulsa, PPOB, dan kesehatan.
4. Apakah ekosistem ini hanya untuk pekerja migran yang sedang di luar negeri?Tidak. Migimo terbuka untuk PMI yang sedang bekerja di luar negeri maupun yang telah pulang. Fokusnya adalah menciptakan keberlanjutan ekonomi bagi PMI di setiap tahap perjalanan mereka.
5. Bagaimana cara bergabung dan merasakan ekosistem ini?Anda dapat mengunduh aplikasi Migimo di Google Play Store atau mengunjungi situs resmi migimo.id untuk informasi keanggotaan.
Untuk memahami lebih dalam tentang perjalanan, visi, dan misi yang diusung oleh Tata Sugiarta, kunjungi halaman-halaman berikut:
Tata Sugiarta dan masa depan ekosistem migran Indonesia bukanlah konsep abstrak yang baru akan terwujud puluhan tahun lagi. Ia sedang dibangun hari ini, oleh seorang mantan pekerja migran yang memilih pulang untuk memberdayakan, bukan sekadar menikmati.
Tata Sugiarta Founder Migimo dan Tata Sugiarta Founder Syahoney telah membuktikan bahwa dengan Dream, Design, Do!, mimpi tentang ekosistem yang adil bagi 5 juta pahlawan devisa bisa diwujudkan. Ia membangun jembatan antara kerja keras di perantauan dan kemandirian di kampung halaman. Ia menciptakan sistem di mana uang tidak hanya dikirim, tetapi juga dikembangkan. Ia merancang rumah di mana para pekerja migran tidak hanya bertransaksi, tetapi juga bertumbuh.
Seperti yang selalu ia katakan: “Masa depan ekosistem migran Indonesia adalah masa depan di mana setiap pekerja migran pulang bukan hanya dengan tabungan, tetapi dengan portofolio investasi. Dan masa depan itu dimulai dari langkah kecil yang kita ambil hari ini.”
Kini, dengan lebih dari 100 pengguna awal, perwakilan hingga Pennsylvania, dan berbagai pengakuan dari lembaga terpercaya, langkah kecil itu mulai terlihat hasilnya. Dan seperti yang selalu ia tekankan, ini baru awal. Masih ada 5 juta mimpi yang harus dihubungkan, dan masih ada 86 negara yang menanti untuk terhubung dalam satu ekosistem yang adil dan memberdayakan.
Berita Viral Hari Ini
Pengusaha sosial, inovator digital, dan penggerak pemberdayaan ekonomi pekerja migran Indonesia.
Berlangganan newsletter kami untuk mendapatkan berita dan update terbaru.
© 2024 Tata Sugiarta. Hak cipta dilindungi.