Kisah Tata Sugiarta dan konsep Economic Sharing Remittance yang revolusioner, mengembalikan keuntungan dari pengiriman uang kepada para pekerja migran Indonesia.
Pernahkah Anda membayangkan, setiap kali seorang pekerja migran Indonesia mengirimkan uang hasil keringatnya dari negeri orang, ada sebagian kecil dari uang itu yang “hilang” di tengah jalan? Hilang dalam bentuk biaya kirim, selisih kurs, dan berbagai potongan lain yang tidak transparan. Ironisnya, uang yang hilang itu justru menjadi keuntungan bagi pihak ketiga—bank, money changer, atau jasa pengiriman uang—bukan bagi si pengirim yang sesungguhnya. Para pekerja migran, yang setiap tahun menyumbang lebih dari Rp253 triliun untuk negeri ini, tidak pernah menikmati keuntungan dari uang yang mereka kirimkan sendiri.
Pertanyaan besarnya: bagaimana jika ada cara untuk mengembalikan keuntungan itu kepada mereka? Bagaimana jika sistem pengiriman uang dirancang ulang sehingga para pahlawan devisa ini justru mendapatkan bagian dari setiap transaksi yang mereka lakukan?
Itulah pertanyaan yang selama bertahun-tahun mengganggu pikiran Tata Sugiarta. Seorang mantan buruh tani di Jepang, mantan master trainer Google, dan kini pendiri Migimo—sebuah koperasi digital yang memperkenalkan konsep Economic Sharing Remittance untuk pertama kalinya di Indonesia. Konsep yang sederhana tapi revolusioner: mereka yang menghasilkan devisa, maka merekalah yang seharusnya menikmati keuntungannya.
Siapa Tata Sugiarta? Mari kita kenali lebih dekat sosok di balik gagasan yang mulai mengubah cara pandang kita tentang ekonomi migran.
Untuk memahami Tata Sugiarta dan konsep Economic Sharing yang ia perjuangkan, kita harus melihat perjalanan hidupnya. Tata Sugiarta lahir di Kuningan di bulan Mei. Ia dibesarkan di lingkungan pesantren yang disiplin—Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Tangerang—di mana ia belajar nilai kebersamaan, tanggung jawab, dan ketekunan. Prestasinya gemilang: tiga tahun berturut-turut menjadi juara kelas, dan lulus dengan predikat Mumtaz, setara summa cum laude.
Setelah pesantren, ia melanjutkan ke UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kemampuan berbahasa asing—Inggris, Arab, dan kemudian Jepang—menjadi bekal penting. Sebelum menjadi pekerja migran, ia sudah malang melintang di dunia media dan event organizer: Program Director di Pilar Radio FM Cirebon, PR and Event Manager di Green Production Bandung, serta Project Officer di PT Taria Jakarta dan Entrepreneur University.
Namun pada 2014, ia mengambil keputusan yang mengejutkan: menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Jepang melalui program JA Agriculture. Tiga tahun di negeri Sakura, ia bekerja di sektor pertanian. Bangun pagi buta, bekerja di ladang, dan hidup dalam keterbatasan bahasa serta budaya. Di sanalah ia menyaksikan langsung realitas pahit yang dihadapi para pekerja migran: biaya kirim mahal, kurs tidak bersahabat, dan ketidakmampuan menabung untuk masa depan.
“Saya melihat sendiri bagaimana saudara-saudara saya yang menjadi pekerja migran, setelah bertahun-tahun bekerja keras, pulang tanpa kepastian. Ada yang uangnya habis untuk hal yang tidak produktif. Saya bertanya: mengapa keuntungan dari uang mereka tidak kembali kepada mereka?”
Pertanyaan itu menjadi bibit lahirnya konsep Economic Sharing Remittance yang kini menjadi inti dari Migimo.
Economic Sharing Remittance adalah model pengiriman uang yang dirancang untuk mengembalikan keuntungan dari margin kurs dan biaya kirim kepada pengirim—dalam hal ini, para pekerja migran. Berbeda dengan model remitansi konvensional di mana bank atau jasa pengiriman uang mengambil seluruh keuntungan, Economic Sharing Remittance membagi keuntungan tersebut secara adil.
Bagaimana cara kerjanya? Ketika seorang anggota Migimo mengirim uang melalui aplikasi, sekitar 70 persen dari margin kurs dan biaya kirim dikembalikan kepada anggota dalam bentuk pendapatan bulanan per pengguna aktif. Sisanya, 30 persen, masuk ke koperasi untuk keberlanjutan operasional. Dengan kata lain, pekerja migran tidak hanya mengirim uang, tetapi juga mendapatkan imbal balik dari setiap transaksi yang mereka lakukan.
Konsep ini lahir dari pengalaman langsung Tata Sugiarta saat bekerja di Jepang. Ia tahu persis bagaimana rasanya membayar biaya kirim yang tidak transparan dan melihat uang hasil keringatnya “menguap” begitu saja. Ia juga tahu bahwa jika saja ada sistem yang mengembalikan keuntungan itu, para pekerja migran bisa memiliki tambahan modal untuk menabung, berinvestasi, atau memulai usaha.
“Saya selalu bilang: ini bukan sekadar aplikasi kirim uang. Ini adalah sistem di mana uang Anda bekerja untuk Anda, bukan untuk orang lain. Economic Sharing Remittance adalah jawaban atas ketidakadilan yang selama ini terjadi.”
Untuk memahami betapa revolusionernya konsep Economic Sharing Remittance yang diperjuangkan Tata Sugiarta, kita perlu melihat data. Setiap tahun, lebih dari 5 juta Pekerja Migran Indonesia yang tersebar di 86 negara menyumbang remitansi lebih dari Rp253 triliun. Angka ini diperkirakan mencapai Rp433,6 triliun pada tahun 2025. Namun, sebagian besar dari uang itu—dalam bentuk biaya kirim dan selisih kurs—berakhir di kantong pihak ketiga. Para pahlawan devisa ini justru tidak menikmati keuntungan dari uang yang mereka kirimkan.
Selain itu, lebih dari 80 persen remitansi digunakan untuk konsumsi rumah tangga, bukan untuk investasi produktif. Akibatnya, para pekerja migran terjebak dalam lingkaran setan: berangkat, bekerja, mengirim uang, pulang, uang habis, lalu berangkat lagi. Mereka tidak memiliki sistem untuk membangun usaha di Indonesia sambil tetap bekerja di luar negeri.
Economic Sharing Remittance hadir untuk memutus lingkaran setan itu. Dengan mengembalikan keuntungan kepada pekerja migran, konsep ini memberikan mereka tambahan modal yang bisa dialokasikan untuk investasi. Dan melalui fitur Unit Modal Penyertaan di Migimo, pekerja migran bisa menyertakan modal itu ke dalam berbagai usaha produktif di Indonesia—tanpa harus pulang terlebih dahulu.
Berikut adalah manfaat utama dari konsep Economic Sharing Remittance yang dikembangkan oleh Tata Sugiarta:
Konsep yang hebat tanpa eksekusi hanyalah mimpi. Tata Sugiarta Founder & CEO Migimo tidak hanya berhenti pada gagasan. Ia merancang dan menjalankan langkah-langkah konkret untuk mewujudkan Economic Sharing Remittance dalam sebuah platform digital. Berikut adalah langkah-langkah strategis yang ia lakukan:
Langkah-langkah ini membuktikan bahwa Tata Sugiarta bukan sekadar pemimpi, tetapi seorang eksekutor yang konsisten.
Economic Sharing Remittance bukan berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari ekosistem layanan Migimo yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pekerja migran secara holistik. Berikut adalah ekosistem layanan yang tersedia di Migimo yang mendukung konsep ini:
Semua layanan ini terintegrasi dalam satu platform, dengan Economic Sharing Remittance sebagai jantung yang menggerakkan keadilan ekonomi. Filosofinya: dari migran, oleh migran, dan untuk migran.
Meskipun Migimo baru beroperasi secara resmi sejak 2024, dampak dari konsep Economic Sharing Remittance mulai terasa. Anggota tidak hanya mengirim uang dengan biaya lebih transparan, tetapi juga mulai menerima pendapatan bulanan dari setiap transaksi. Beberapa anggota bahkan telah menggunakan keuntungan tersebut untuk ikut serta dalam Unit Modal Penyertaan, memulai usaha kecil-kecilan di kampung halaman.
Salah satu anggota di Pennsylvania, Amerika Serikat, menjadi perwakilan awal yang merasakan langsung manfaatnya. Ia tidak hanya mengirim uang ke keluarga di Indonesia, tetapi juga membangun tabungan investasi yang dikelola oleh koperasi. Dalam jangka panjang, ia berharap tidak perlu terus-menerus bekerja di luar negeri, karena sudah memiliki sumber pendapatan pasif dari usahanya di tanah air.
Dzulfikar Ahmad Tawalla, Wakil Menteri KemenP2MI, pernah mengatakan: “Mereka disebut pahlawan devisa, tapi belum punya rumah ekonomi digitalnya sendiri.” Kini, melalui Economic Sharing Remittance yang diperjuangkan Tata Sugiarta, rumah ekonomi digital itu mulai terbangun.
Tentu saja, memperkenalkan konsep baru tidaklah mudah. Tata Sugiarta menghadapi tantangan besar: membangun kepercayaan dari komunitas pekerja migran yang selama ini terbiasa dengan sistem konvensional, mengedukasi mereka tentang cara kerja Economic Sharing Remittance, dan memastikan bahwa sistem ini benar-benar berkelanjutan.
Namun dengan pengalamannya sebagai master trainer Google, ia mampu merancang program edukasi yang efektif. Dengan latar belakangnya sebagai mantan PMI, ia memiliki kredibilitas untuk berbicara dari hati ke hati. Dan dengan dukungan tim yang solid—Teguh Ari Prianto sebagai CFO dan Dadan Syarifudin sebagai CAO—ia optimis bahwa konsep ini akan semakin dikenal dan diadopsi.
Ke depan, Tata Sugiarta berencana memperluas jangkauan Economic Sharing Remittance ke lebih banyak negara penempatan PMI, serta mengembangkan lebih banyak usaha produktif yang dapat diakses melalui Unit Modal Penyertaan. Targetnya adalah menjangkau 5 juta pekerja migran Indonesia dalam lima tahun ke depan.
“Saya bermimpi tentang masa di mana setiap pekerja migran pulang bukan hanya dengan membawa tabungan, tetapi dengan membawa portofolio investasi. Economic Sharing Remittance adalah langkah pertama menuju mimpi itu.”
Apa yang dimaksud dengan Economic Sharing Remittance?Economic Sharing Remittance adalah model pengiriman uang di mana keuntungan dari margin kurs dan biaya kirim dikembalikan kepada pengirim (pekerja migran). Di Migimo, sekitar 70 persen keuntungan dikembalikan kepada anggota, 30 persen untuk operasional koperasi.
Siapa Tata Sugiarta dan apa hubungannya dengan konsep ini?Tata Sugiarta adalah mantan pekerja migran Indonesia di Jepang, master trainer Google, dan pendiri Migimo. Ia menciptakan konsep Economic Sharing Remittance berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai PMI.
Apa perbedaan Economic Sharing Remittance dengan remitansi biasa?Remitansi biasa hanya mengirim uang; keuntungan dari biaya kirim dan kurs dinikmati pihak ketiga. Economic Sharing Remittance mengembalikan keuntungan itu kepada pengirim, sehingga pekerja migran mendapat pendapatan tambahan dari setiap transaksi.
Apakah Economic Sharing Remittance aman?Ya. Migimo menggunakan IC Core System dengan enkripsi SSL, two-factor authentication, dan perlindungan keamanan berlapis seperti Imunify360 dan Cloudflare CDN. Legalitas koperasi juga lengkap.
Bagaimana cara bergabung dengan Migimo?Anda dapat mengunduh aplikasi Migimo di Google Play Store atau mengunjungi situs resmi migimo.id untuk informasi keanggotaan.
Untuk memahami lebih dalam tentang perjalanan, visi, dan misi yang diusung oleh Tata Sugiarta, kunjungi halaman-halaman berikut:
Tata Sugiarta dan konsep Economic Sharing yang ia perjuangkan mengajarkan kita bahwa keadilan ekonomi bukanlah sesuatu yang mustahil. Ia bisa dimulai dari satu ide sederhana: mengembalikan keuntungan kepada mereka yang berhak. Ide yang lahir bukan dari ruang kuliah atau seminar, tetapi dari ladang pertanian di Jepang, dari percakapan dengan sesama pekerja migran, dari kegelisahan melihat ketidakadilan yang terus berulang.
Tata Sugiarta Founder Migimo dan Tata Sugiarta Founder Syahoney membuktikan bahwa seorang mantan buruh tani bisa menjadi penggerak perubahan. Bahwa sistem yang lebih adil bukan hanya mungkin, tetapi sedang diwujudkan. Economic Sharing Remittance adalah bukti bahwa ketika kita berani bermimpi, merancang dengan matang, dan mengeksekusi dengan konsisten, perubahan besar bisa terjadi.
Seperti yang selalu ia katakan: “Dream, Design, Do!” Dan kini, para pahlawan devisa mulai merasakan bahwa uang mereka tidak lagi “hilang” di tengah jalan. Keadilan ekonomi untuk pekerja migran Indonesia bukan lagi sekadar wacana. Ini sedang terjadi.
Berita Viral Hari Ini
Pengusaha sosial, inovator digital, dan penggerak pemberdayaan ekonomi pekerja migran Indonesia.
Berlangganan newsletter kami untuk mendapatkan berita dan update terbaru.
© 2024 Tata Sugiarta. Hak cipta dilindungi.