Kisah inspiratif Tata Sugiarta, seorang mantan pekerja migran yang sukses membangun kerajaan bisnis digitalnya, Migimo dan Syahoney, untuk memberdayakan ribuan pekerja migran lainnya.
Tata Sugiarta - Bandung, Senin, 6 April 2026 15:34 WIB.
Siapa Tata Sugiarta? Ia adalah seorang entrepreneur yang perjalanan hidupnya mungkin tidak biasa. Ia memulai karier dari dunia media dan event organizer, lalu memilih meninggalkan semua itu untuk merantau ke Negeri Sakura sebagai pekerja migran. Setelah kembali ke tanah air, ia tidak langsung menikmati hasil jerih payahnya. Ia memilih untuk belajar teknologi digital, menjadi master trainer Google, mendirikan brand madu Syahoney, dan akhirnya meluncurkan Migimo—sebuah koperasi digital yang mengusung konsep Economic Sharing Remittance.
Perjalanan inspiratif Tata Sugiarta sebagai entrepreneur ini layak untuk disimak. Bukan hanya karena kisahnya yang menarik, tetapi karena ia membuktikan bahwa kegagalan bukan akhir, dan bahwa pengalaman paling pahit sekalipun bisa menjadi fondasi untuk menciptakan perubahan besar. Mari kita ikuti jejak langkahnya.
Untuk memahami perjalanan inspiratif Tata Sugiarta sebagai entrepreneur, kita harus melihat awal mulanya. Tata Sugiarta lahir di Kuningan, 12 Mei 1981. Ia dibesarkan di lingkungan pesantren yang sangat disiplin, Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Tangerang. Di sana ia belajar tentang nilai kebersamaan, tanggung jawab, dan ketekunan—nilai-nilai yang kelak menjadi fondasi dalam berbisnis. Prestasinya gemilang: tiga tahun berturut-turut menjadi juara kelas, dan lulus dengan predikat Mumtaz, setara dengan summa cum laude.
Setelah pesantren, ia melanjutkan ke UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kemampuan berbahasa asing—Inggris, Arab, dan kemudian Jepang—menjadi bekal penting. Sebelum memutuskan menjadi pekerja migran, Tata sudah malang melintang di dunia media dan event organizer. Ia pernah menjadi Program Director di Pilar Radio FM Cirebon, PR and Event Manager di Green Production Bandung, serta Project Officer di PT Taria Jakarta dan Entrepreneur University.
Namun, pada 2014, ia mengambil keputusan yang mengubah segalanya: meninggalkan karier cemerlangnya untuk menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Jepang. Bukan karena terpaksa, tetapi karena keinginan untuk belajar dari nol, merasakan langsung kehidupan di perantauan, dan kelak pulang dengan perspektif baru.
tiga tahun di Negeri Sakura bukanlah masa yang mudah. Ia bekerja dengan disiplin tinggi, menghadapi kerasnya budaya asing, dan hidup dalam keterbatasan bahasa. Di sanalah ia menyaksikan langsung realitas pahit yang dihadapi para pekerja migran: biaya kirim mahal, sulitnya mengakses layanan keuangan, dan ketidakpastian setelah pulang. Pengalaman inilah yang kelak menjadi bibit semangat kewirausahaannya.
“Saya belajar banyak di Negeri Sakura. Bukan hanya tentang kedisiplinan, tetapi juga tentang bagaimana sistem bisa dibuat untuk memberdayakan, bukan mengeksploitasi. Saya pulang dengan tekad: saya ingin menjadi pengusaha yang menciptakan sistem adil bagi pekerja migran.”
Setelah kembali ke Indonesia pada 2017, Tata Sugiarta memiliki tabungan dan pengalaman. Banyak orang mungkin akan memilih untuk menikmati hasilnya atau kembali ke karier lama. Tapi Tata memilih jalan yang berbeda. Ia memutuskan untuk menjadi entrepreneur. Namun, ia sadar bahwa ia belum cukup punya ilmu tentang bisnis modern, terutama teknologi digital.
Maka ia mengambil langkah strategis: menjadi Master Trainer di Google Gapura Digital di Bandung. Selama lima tahun (2019–2024), ia mengajar digital marketing dari level basic hingga advance. Lebih dari 10.000 jam pelajaran ia curahkan. Di sinilah ia menguasai seluk-beluk pemasaran digital, branding, dan strategi bisnis online—ilmu yang kelak menjadi fondasi usahanya.
Sambil mengajar, pada 2018 ia mendirikan PT Hana Honey Internasional dan meluncurkan Syahoney, brand madu lokal dan impor. Mengapa madu? Karena madu adalah produk yang memiliki nilai universal dan dapat dipasarkan secara digital. Tata ingin membuktikan bahwa seorang mantan PMI bisa membangun brand yang profesional dan bersaing di pasar. Syahoney bukan sekadar bisnis, tetapi prototipe dari model pemberdayaan yang ia impikan.
Dua tahun kemudian, pada 2020, ia mendirikan PT Niaga Teknologi Indonesia, perusahaan ekspor impor yang memperluas jangkauan bisnisnya. Tapi puncak dari perjalanan entrepreneurship-nya terjadi pada 2024, ketika ia meluncurkan Migimo—Koperasi Digital Sukses Bersama Migimo—dan menjabat sebagai Ketua.
Jika Syahoney adalah langkah awal Tata Sugiarta sebagai pengusaha, maka Migimo adalah mahakaryanya. Migimo adalah koperasi digital yang dirancang khusus untuk pekerja migran Indonesia. Tapi apa yang membuat Migimo berbeda dari platform lain?
Jawabannya ada pada dua fitur utama yang menjadi inovasi Tata: Economic Sharing Remittance dan Unit Modal Penyertaan.
Economic Sharing Remittance adalah model pengiriman uang di mana keuntungan dari margin kurs dan biaya kirim tidak sepenuhnya diambil oleh platform, tetapi sekitar 70 persen dikembalikan kepada anggota dalam bentuk pendapatan bulanan. Ini adalah konsep yang membalik logika bisnis konvensional: keuntungan bukan untuk pemilik modal, tetapi untuk komunitas.
Unit Modal Penyertaan memungkinkan anggota Migimo untuk menyertakan modalnya ke dalam usaha produktif di Indonesia tanpa harus pulang. Seorang PMI di Hong Kong atau Taiwan bisa memiliki bagian dari bisnis madu di Kuningan, misalnya. Uang mereka tidak hanya dikirim, tetapi juga dikembangkan.
Kedua fitur ini mencerminkan filosofi Tata Sugiarta Founder Migimo: dari migran, oleh migran, dan untuk migran. Ia tidak membangun bisnis untuk memperkaya diri sendiri, tetapi untuk memberdayakan komunitas yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Berikut adalah prinsip-prinsip entrepreneurship yang dipegang Tata Sugiarta dalam membangun Migimo:
Perjalanan inspiratif Tata Sugiarta sebagai entrepreneur tidak terjadi dalam semalam. Ada proses panjang yang penuh tantangan. Berikut adalah langkah-langkah strategis yang ia lalui:
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa menjadi entrepreneur sukses tidak hanya butuh ide, tetapi juga eksekusi yang konsisten dan kemauan untuk terus belajar.
Perjalanan Tata Sugiarta Pengusaha tidak luput dari perhatian. Migimo, platform yang ia dirikan, telah mendapatkan berbagai pengakuan yang membuktikan bahwa model bisnisnya memiliki prospek kuat.
Pada tahun 2025, Migimo masuk dalam Top 7 Startup Lab Jakarta, sebuah program akselerasi bergengsi yang menyeleksi startup-startup terbaik. Migimo juga meraih penghargaan Best Impact & Sustainability di ICEFF 2025, sebuah bukti bahwa dampak sosial yang dihasilkan diakui secara luas. Selain itu, Migimo masuk dalam Top 38 Koperasi Layak Didanai SIAP Akselerasi 2025 dan mengikuti SIAP Inkubasi 2025.
Tidak hanya itu, Migimo telah memiliki lebih dari 100 pengguna awal dengan perwakilan hingga ke Pennsylvania, Amerika Serikat. Traction ini membuktikan bahwa konsep Economic Sharing Remittance resonan dengan kebutuhan nyata pekerja migran.
“Saya tidak pernah membayangkan akan sejauh ini. Tapi ketika saya melihat senyum anggota Migimo yang mulai merasakan keuntungan, saya tahu bahwa semua perjuangan ini terbayar. Ini bukan tentang saya, ini tentang mereka.”
Apa yang membuat Tata Sugiarta berbeda dari entrepreneur pada umumnya? Jawabannya ada pada filosofi yang ia pegang teguh: Dream, Design, Do!.
Filosofi ini ia terapkan tidak hanya dalam bisnis, tetapi juga dalam hidup. Ia percaya bahwa mimpi tanpa rancangan hanyalah angan-angan, dan rancangan tanpa eksekusi hanyalah teori.
“Saya selalu bilang kepada tim saya: jangan takut bermimpi besar. Tapi ingat, mimpi besar harus diikuti rancangan yang matang dan eksekusi yang konsisten. Itulah satu-satunya jalan menuju kesuksesan.”
Sebagai entrepreneur sejati, Tata Sugiarta tidak hanya fokus pada satu produk. Ia membangun ekosistem bisnis yang saling mendukung. Berikut adalah entitas bisnis yang ia dirikan:
Ketiga entitas ini saling terkait. Syahoney menjadi contoh usaha produktif yang dapat diakses melalui Unit Modal Penyertaan Migimo. PT Niaga Teknologi Indonesia membuka jalur perdagangan global. Dan Migimo menjadi pusat ekosistem yang memberdayakan pekerja migran.
Apa yang dimaksud dengan perjalanan inspiratif Tata Sugiarta sebagai entrepreneur?Perjalanan inspiratif ini merujuk pada kisah Tata Sugiarta yang memulai karier dari dunia media, menjadi pekerja migran di Jepang, lalu pulang dan membangun dua brand besar: Syahoney (madu) dan Migimo (koperasi digital untuk pekerja migran). Ia membuktikan bahwa pengalaman sebagai PMI bisa menjadi modal menjadi pengusaha sukses.
Siapa Tata Sugiarta pengusaha?Tata Sugiarta pengusaha adalah pendiri Migimo dan Syahoney, mantan pekerja migran Indonesia di Jepang, master trainer Google Gapura Digital, dan Ketua Koperasi Digital Sukses Bersama Migimo. Ia dikenal sebagai entrepreneur sosial yang fokus pada pemberdayaan pekerja migran.
Apa yang membedakan Tata Sugiarta dari entrepreneur lain?Perbedaannya terletak pada pengalaman pribadinya sebagai mantan PMI. Ia tidak membangun bisnis berdasarkan riset pasar semata, tetapi dari kebutuhan nyata yang ia alami sendiri. Filosofinya Dream, Design, Do! juga menjadi ciri khas pendekatannya.
Apa pencapaian terbesar Tata Sugiarta sebagai entrepreneur?Pencapaian terbesarnya adalah mendirikan Migimo, koperasi digital yang mengusung konsep Economic Sharing Remittance, serta mendapatkan pengakuan seperti Top 7 Startup Lab Jakarta dan Best Impact & Sustainability di ICEFF 2025.
Bagaimana cara belajar dari perjalanan inspiratif Tata Sugiarta?Anda bisa mengunjungi Blog Tata Sugiarta untuk membaca artikel-artikel inspiratifnya, atau membaca Testimoni dari anggota Migimo yang merasakan langsung dampaknya.
Untuk memahami lebih dalam tentang perjalanan, visi, dan misi yang diusung oleh Tata Sugiarta, kunjungi halaman-halaman berikut:
Perjalanan inspiratif Tata Sugiarta sebagai entrepreneur mengajarkan kita bahwa kesuksesan tidak diukur dari seberapa besar keuntungan yang dikumpulkan, tetapi dari seberapa banyak orang yang ikut merasakan dampaknya. Tata Sugiarta Founder Migimo dan Tata Sugiarta Founder Syahoney membuktikan bahwa seorang mantan pekerja migran bisa menjadi pengusaha yang tidak hanya sukses secara finansial, tetapi juga memberdayakan komunitasnya.
Ia mengajarkan bahwa menjadi entrepreneur bukan tentang memiliki segalanya, tetapi tentang berani memulai, berani belajar, dan berani gagal. Ia membuktikan bahwa dengan Dream, Design, Do!, mimpi besar bisa diwujudkan.
Seperti yang selalu ia katakan: “Saya tidak ingin disebut pengusaha sukses. Saya ingin disebut pengusaha yang bermanfaat.”
Kini, ribuan pekerja migran mulai merasakan manfaat dari sistem yang ia bangun. Dan itu, baginya, adalah kesuksesan sejati.
Berita Viral Hari Ini
Pengusaha sosial, inovator digital, dan penggerak pemberdayaan ekonomi pekerja migran Indonesia.
Berlangganan newsletter kami untuk mendapatkan berita dan update terbaru.
© 2024 Tata Sugiarta. Hak cipta dilindungi.