Peran Tata Sugiarta dalam Mendorong Pemberdayaan Komunitas
Sosial & Komunitas 1774429938580 • 15 menit baca

Peran Tata Sugiarta dalam Mendorong Pemberdayaan Komunitas

Kisah inspiratif Tata Sugiarta, dari mantan pekerja migran di Jepang menjadi penggerak pemberdayaan komunitas melalui Migimo, sebuah platform yang mengubah cara pandang kita tentang remitansi dan membangun rumah ekonomi digital bagi pekerja migran Indonesia.

KupasNews
KupasNews
Berita Viral Hari Ini
1774429938580

Peran Tata Sugiarta dalam Mendorong Pemberdayaan Komunitas: Dari Pekerja Migran Menjadi Penggerak Perubahan

Ada satu pertanyaan yang mungkin jarang muncul di ruang-ruang diskusi tentang pemberdayaan komunitas: siapa yang paling memahami kebutuhan sebuah komunitas? Jawabannya sederhana: mereka yang pernah menjadi bagian dari komunitas itu sendiri. Bukan mereka yang datang dari luar dengan segudang teori. Bukan mereka yang hanya membaca laporan atau melakukan survei. Tapi mereka yang pernah merasakan sendiri dinginnya pagi di ladang perantauan, yang pernah merasakan kerinduan akan keluarga, dan yang pernah bertanya-tanya tentang masa depan setelah pulang ke tanah air.

Sosok yang menjawab panggilan itu adalah Tata Sugiarta. Mungkin nama ini sudah tidak asing bagi sebagian dari Anda. Tapi bagi yang baru pertama kali mendengarnya, izinkan saya mengenalkan: Tata Sugiarta Founder Migimo, Tata Sugiarta Founder Syahoney, seorang mantan pekerja migran Indonesia di Jepang yang kini menjadi penggerak di balik pemberdayaan komunitas pekerja migran. Ia adalah Ketua Koperasi Digital Sukses Bersama Migimo, sebuah platform yang dirancang untuk mengubah cara pandang kita tentang remitansi dan pemberdayaan komunitas.

Artikel ini akan mengupas tuntas peran Tata Sugiarta dalam mendorong pemberdayaan komunitas—sebuah perjalanan yang dimulai dari ladang pertanian di Jepang dan kini melangkah menuju masa depan di mana 5 juta pekerja migran Indonesia memiliki rumah ekonomi digital mereka sendiri.

Siapa Tata Sugiarta? Sebuah Perjalanan yang Membentuk Panggilan Hidup

Untuk memahami peran seseorang dalam memberdayakan komunitas, kita harus memahami dari mana ia berasal. Tata Sugiarta lahir di Kuningan, 12 Mei 1981. Ia dibesarkan di lingkungan pesantren yang sangat disiplin—Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Tangerang. Di pesantren, ia belajar tentang nilai-nilai yang kelak menjadi fondasi perannya sebagai penggerak komunitas: kebersamaan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama. Prestasinya gemilang: tiga tahun berturut-turut menjadi juara kelas, dan lulus dengan predikat Mumtaz, setara dengan summa cumlaude.

Dari pesantren, ia melanjutkan ke UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kemampuan berbahasa asing—Inggris, Arab, dan kemudian Jepang—menjadi bekal penting dalam perjalanan hidupnya.

Sebelum menjadi pekerja migran, karier Tata cukup cemerlang. Ia pernah menjadi Program Director di Pilar Radio FM Cirebon, PR and Event Manager di Green Production Bandung, serta Project Officer di PT Taria Jakarta dan Entrepreneur University. Tapi pada 2014, ia mengambil keputusan yang mengubah segalanya: ia memilih menjadi Pekerja Migran Indonesia di Jepang melalui program JA Agriculture.

Tiga tahun di negeri Sakura bukanlah masa yang mudah. Ia bekerja di sektor pertanian, bangun pagi buta, bekerja di ladang dengan disiplin tinggi, dan hidup dalam keterbatasan bahasa serta budaya. Tapi di sanalah ia menyaksikan langsung realitas yang dihadapi para pekerja migran. Ia melihat teman-teman sesama PMI yang kesulitan mengirim uang dengan biaya yang wajar. Ia melihat mereka yang tidak memiliki tabungan setelah bertahun-tahun bekerja. Ia melihat mereka yang pulang ke kampung halaman tanpa arah yang jelas.

Pengalaman inilah yang menjadi titik balik. Tata Sugiarta pulang ke Indonesia bukan hanya membawa tabungan, tetapi juga membawa mimpi untuk memberdayakan komunitas yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.

“Saya tidak perlu membaca laporan atau studi kelayakan untuk memahami apa yang dibutuhkan pekerja migran. Saya pernah menjadi salah satu dari mereka. Saya tahu rasanya mengirim uang dengan biaya mahal, saya tahu rasanya tidak punya tabungan setelah bertahun-tahun bekerja. Dari pengalaman itulah saya tahu bahwa pemberdayaan komunitas harus dimulai dari dalam, bukan dari luar.”

Mengapa Pemberdayaan Komunitas Menjadi Panggilan Hidup?

Setelah kembali dari Jepang pada 2017, Tata Sugiarta memiliki pilihan: menikmati hasil tabungannya, atau kembali ke dunia event organizer yang pernah ia geluti. Tapi ia memilih jalan yang berbeda. Ia memilih untuk belajar dulu. Ia menjadi Master Trainer di Google Gapura Digital di Bandung selama lima tahun (2019–2024), mengajar digital marketing dari basic hingga advance. Lebih dari 10.000 jam pelajaran ia curahkan.

Di sela-sela kesibukannya sebagai trainer, pada 2018 ia mendirikan PT Hana Honey Internasional dan meluncurkan Syahoney, brand madu lokal dan impor. Mengapa madu? Bagi Tata, Syahoney adalah prototipe. Ia ingin membuktikan bahwa seorang mantan pekerja migran bisa membangun bisnis yang memberdayakan orang lain. Ia ingin menunjukkan bahwa dengan digital marketing yang tepat, produk lokal bisa mendunia—dan dalam prosesnya, memberdayakan petani madu lokal yang menjadi bagian dari rantai pasoknya.

Tapi puncak dari perjalanan ini terjadi pada tahun 2024, ketika ia resmi mendirikan Koperasi Digital Sukses Bersama Migimo dan menjabat sebagai Ketua. Sebuah langkah yang menyatukan seluruh pengalamannya: sebagai mantan PMI, sebagai ahli digital marketing, dan sebagai pengusaha. Dan yang terpenting, sebuah langkah yang menempatkan pemberdayaan komunitas sebagai inti dari setiap keputusan.

Tiga Masalah Besar yang Menggerakkan Hati

Untuk memahami peran Tata Sugiarta dalam mendorong pemberdayaan komunitas, kita perlu memahami tiga masalah besar yang ia identifikasi dari pengalamannya sendiri. Masalah-masalah ini bukan sekadar data statistik, tetapi realitas yang ia saksikan setiap hari selama tiga tahun di Jepang.

  • Pertama, remitansi yang sulit dan tidak adil. Setiap tahun, lebih dari 5 juta Pekerja Migran Indonesia yang tersebar di 86 negara menyumbang lebih dari Rp253 triliun dalam bentuk remitansi. Angka ini diperkirakan akan mencapai Rp433,6 triliun pada tahun 2025. Tapi ironisnya, para pekerja migran yang menghasilkan devisa ini justru tidak menikmati keuntungan dari uang yang mereka kirimkan. Biaya kirim yang tinggi, kurs yang tidak menguntungkan, dan ketidakjelasan alur biaya membuat uang hasil jerih payah mereka “hilang” dalam proses pengiriman.

  • Kedua, lingkaran setan yang tidak pernah putus. Pekerja migran berangkat ke luar negeri untuk mencari uang. Setelah beberapa tahun, mereka pulang membawa tabungan. Tapi kurang dari satu tahun, uang itu habis untuk konsumsi. Dan mereka berangkat lagi ke luar negeri. Begitu seterusnya. Mereka punya uang, tetapi tidak memiliki sistem untuk membangun usaha di Indonesia sambil tetap bekerja di luar negeri.

  • Ketiga, ketiadaan rumah ekonomi digital. Dalam sebuah pernyataan yang menggetarkan, Dzulfikar Ahmad Tawalla, Wakil Menteri KemenP2MI, pernah mengatakan: “Mereka disebut pahlawan devisa, tapi belum punya rumah ekonomi digitalnya sendiri.” Kalimat ini merangkum seluruh ironi yang selama ini dialami oleh para pekerja migran. Mereka menjadi tulang punggung ekonomi keluarga dan negara, tetapi tidak memiliki wadah yang benar-benar memahami dan memberdayakan mereka.

Ketiga masalah inilah yang menjadi fondasi dari peran Tata Sugiarta dalam mendorong pemberdayaan komunitas. Ia tidak hanya berbicara tentang masalah, tetapi juga merancang solusi yang nyata.

Migimo: Membangun Rumah Ekonomi Digital untuk Pekerja Migran

Nama Migimo mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang. Tapi bagi para pekerja migran yang sudah bergabung, ini adalah sebuah rumah baru. Migimo adalah singkatan dari Migrant Mobile, sebuah aplikasi terintegrasi yang dirancang khusus untuk kebutuhan pekerja migran Indonesia.

Tapi apa yang membedakan Migimo dari platform lainnya? Jawabannya ada pada dua fitur utama yang menjadi inti dari pemberdayaan komunitas yang digerakkan oleh Tata Sugiarta Founder & CEO Migimo.

Economic Sharing Remittance: Mengembalikan Keuntungan kepada Pekerja Migran

Ini adalah fitur yang mungkin paling revolusioner. Economic Sharing Remittance adalah model pengiriman uang di mana keuntungan dari margin kurs dan biaya kirim tidak sepenuhnya diambil oleh platform, tetapi dikembalikan kepada pekerja migran sebagai anggota koperasi.

Selama ini, ketika seorang PMI mengirim uang ke Indonesia, keuntungan dari proses tersebut dinikmati oleh pihak ketiga—bank, money changer, atau jasa pengiriman uang. Para pekerja migran yang mengirim uang justru tidak mendapatkan bagian apa pun.

Migimo membalik logika itu. Ketika anggota mengirim uang melalui aplikasi Migimo, sebagian dari margin kurs dan biaya kirim—sekitar 70 persen—dikembalikan kepada anggota dalam bentuk pendapatan bulanan per pengguna aktif. Sisanya, 30 persen, masuk ke koperasi untuk keberlanjutan operasional.

Prinsipnya sederhana: mereka yang menghasilkan devisa, maka merekalah yang seharusnya menikmati keuntungannya. Ini bukan sekadar slogan. Ini adalah filosofi yang menjadi fondasi dari setiap keputusan bisnis Migimo.

Unit Modal Penyertaan: Membangun Usaha dari Jarak Jauh

Jika fitur pertama berbicara tentang keadilan dalam proses pengiriman uang, fitur kedua berbicara tentang bagaimana uang itu dapat dikelola secara produktif.

Unit Modal Penyertaan memungkinkan anggota Migimo untuk menyertakan modalnya ke dalam berbagai usaha produktif yang dikelola oleh koperasi. Mereka tidak perlu pulang ke Indonesia untuk memulai bisnis. Mereka bisa tetap bekerja di luar negeri sambil uang mereka “bekerja” untuk membangun usaha di tanah air.

Ini adalah terobosan yang signifikan. Selama ini, uang yang dikirim pekerja migran cenderung habis untuk konsumsi. Dengan Unit Modal Penyertaan, uang itu bisa menjadi modal produktif yang menciptakan nilai tambah jangka panjang. Seorang PMI yang bekerja di Taiwan bisa memiliki usaha madu di Kuningan. Seorang PMI di Hong Kong bisa memiliki usaha kerajinan di Jawa Barat. Uang mereka tidak hanya dikirim, tetapi juga dikembangkan.

Prinsip-Prinsip Pemberdayaan Komunitas yang Diterapkan

Dalam menjalankan perannya sebagai penggerak komunitas, Tata Sugiarta menerapkan prinsip-prinsip yang menjadi fondasi dari setiap langkahnya. Berikut adalah prinsip-prinsip pemberdayaan komunitas yang ia pegang teguh:

  • Dari Komunitas, oleh Komunitas, untuk Komunitas – Setiap keputusan diambil dengan melibatkan anggota, memastikan bahwa Migimo benar-benar menjadi milik bersama.
  • Keadilan Ekonomi – Mereka yang menghasilkan keuntungan, berhak menikmatinya. Inilah mengapa Economic Sharing Remittance menjadi fitur utama.
  • Keberlanjutan – Pemberdayaan tidak boleh bersifat sesaat. Sistem yang dibangun harus bertahan jangka panjang dan memberdayakan generasi berikutnya.
  • Kolaborasi, Bukan Kompetisi – Migimo membangun ekosistem kolaboratif yang menghubungkan regulator, mitra teknologi, dan komunitas untuk menciptakan dampak yang lebih besar.
  • Teknologi sebagai Alat, Bukan Tujuan – Teknologi hanyalah alat. Yang terpenting adalah bagaimana teknologi itu digunakan untuk memberdayakan manusia.

Langkah-Langkah Strategis dalam Mendorong Pemberdayaan Komunitas

Peran Tata Sugiarta dalam mendorong pemberdayaan komunitas tidak terjadi dalam semalam. Ada proses panjang yang sistematis. Berikut adalah langkah-langkah strategis yang ia lakukan:

  • Membangun Fondasi Personal – Menjadi master trainer Google Gapura Digital selama lima tahun untuk menguasai seluk-beluk teknologi digital, sekaligus mendirikan Syahoney sebagai prototipe bisnis yang memberdayakan.
  • Mengidentifikasi Masalah dari Dalam – Menggunakan pengalaman sebagai mantan PMI untuk memahami secara langsung tantangan yang dihadapi pekerja migran, tanpa perlu laporan atau studi kelayakan dari luar.
  • Merancang Model yang Berpihak pada Komunitas – Menciptakan Economic Sharing Remittance dan Unit Modal Penyertaan sebagai fitur utama yang memastikan keuntungan kembali kepada anggota.
  • Membangun Tim yang Tepat – Mengelilingi diri dengan orang-orang yang memiliki visi yang sama, seperti Teguh Ari Prianto sebagai Chief Financial Officer yang ahli dalam pengembangan komunitas, dan Dadan Syarifudin sebagai Chief Administrative Officer yang visioner dalam tata kelola.
  • Melibatkan Komunitas dalam Setiap Keputusan – Tidak mengambil keputusan sepihak, tetapi selalu melibatkan anggota dalam setiap langkah penting.
  • Edukasi Berkelanjutan – Menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan bagi anggota secara rutin, memastikan mereka tidak hanya menggunakan layanan tetapi juga memahami cara mengelola keuangan dan membangun usaha.
  • Evaluasi dan Iterasi – Terus memperbaiki layanan berdasarkan masukan dari anggota, dengan pendekatan agile yang memungkinkan adaptasi cepat terhadap kebutuhan yang berubah.

Dampak Nyata yang Telah Dirasakan Komunitas

Peran Tata Sugiarta Founder Migimo dalam memberdayakan komunitas tidak hanya berbicara tentang konsep, tetapi juga menghasilkan dampak nyata. Hingga kini, Migimo telah memiliki lebih dari 100 pengguna awal, dengan perwakilan hingga ke Pennsylvania, Amerika Serikat. Traction ini tidak datang dari iklan besar-besaran, tetapi dari rekomendasi mulut ke mulut di antara sesama pekerja migran—bukti bahwa kepercayaan telah terbangun.

Migimo juga telah mendapatkan berbagai pengakuan yang menunjukkan bahwa model pemberdayaan komunitas ini memiliki prospek yang kuat. Pada tahun 2025, Migimo masuk dalam Top 7 Startup Lab Jakarta, sebuah program akselerasi bergengsi. Migimo juga meraih penghargaan Best Impact & Sustainability di ICEFF 2025, sebuah bukti bahwa dampak sosial yang dihasilkan diakui secara luas. Selain itu, Migimo masuk dalam Top 38 Koperasi Layak Didanai SIAP Akselerasi 2025 dan mengikuti SIAP Inkubasi 2025.

Yang lebih penting adalah dampak di level individu. Anggota Migimo tidak hanya mendapatkan layanan pengiriman uang yang lebih adil, tetapi juga mulai merasakan manfaat dari model berbagi keuntungan. Beberapa anggota bahkan telah mulai memanfaatkan Unit Modal Penyertaan untuk membangun usaha kecil-kecilan di kampung halaman. Mereka tidak lagi terjebak dalam lingkaran setan berangkat-pulang-berangkat lagi. Mereka mulai memiliki akar ekonomi di tanah air.

Ekosistem Layanan yang Mendukung Pemberdayaan

Tata Sugiarta merancang Migimo bukan hanya sebagai platform pengiriman uang, tetapi sebagai ekosistem yang utuh. Berikut adalah ekosistem layanan yang tersedia di Migimo yang mendukung pemberdayaan komunitas secara holistik:

  • MigiShare – Layanan pengiriman uang dengan sistem economic sharing.
  • Pulsa/Paket Data – Isi ulang cepat untuk semua operator.
  • PPOB – Pembayaran tagihan rutin yang mudah dan cepat.
  • TV Berlangganan – Bayar langganan TV favorit tanpa ribet.
  • Emoney – Dompet digital praktis untuk transaksi sehari-hari.
  • MigiNear – Temukan layanan terdekat dari lokasi Anda.
  • MigiMart – Produk Indonesia yang bisa dibeli dari luar negeri.
  • MigiCar & MigiBike – Layanan mobil dan motor terpercaya.
  • MigiMove – Layanan logistik untuk pengiriman barang.
  • Replek – Layanan bagi PMI yang sakit, memastikan mereka mendapatkan akses kesehatan yang layak.

Semua layanan ini dirancang dengan satu filosofi: dari migran, oleh migran, dan untuk migran. Setiap fitur dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata yang diidentifikasi dari interaksi dengan komunitas.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

  1. Apa yang dimaksud dengan Peran Tata Sugiarta dalam Mendorong Pemberdayaan Komunitas?

    Peran ini merujuk pada upaya Tata Sugiarta dalam membangun ekosistem yang memberdayakan pekerja migran Indonesia melalui Migimo. Fokus utamanya adalah menciptakan keadilan ekonomi melalui Economic Sharing Remittance dan membuka akses kepemilikan usaha dari jarak jauh melalui Unit Modal Penyertaan.

  2. Siapa Tata Sugiarta Founder & CEO Migimo?

    Tata Sugiarta Founder & CEO Migimo adalah mantan pekerja migran Indonesia di Jepang yang kemudian menjadi master trainer Google Gapura Digital. Ia mendirikan Migimo pada tahun 2024 sebagai koperasi digital yang memberdayakan pekerja migran melalui pendekatan berbasis komunitas.

  3. Apa hubungan antara Tata Sugiarta Founder Syahoney dengan pemberdayaan komunitas?

    Syahoney adalah prototipe awal dari model pemberdayaan yang ingin dibangun Tata. Melalui Syahoney, ia membuktikan bahwa seorang mantan pekerja migran bisa membangun bisnis yang memberdayakan petani lokal dan menciptakan nilai tambah bagi komunitas.

  4. Bagaimana Migimo membantu memutus lingkaran setan pekerja migran?

    Melalui Unit Modal Penyertaan, pekerja migran dapat memiliki usaha di Indonesia sambil tetap bekerja di luar negeri. Dengan demikian, ketika mereka pulang, mereka sudah memiliki sumber pendapatan yang berkelanjutan, tidak perlu berangkat lagi ke luar negeri.

  5. Bagaimana cara bergabung dengan Migimo?

    Anda dapat mengunduh aplikasi Migimo di Google Play Store atau mengunjungi situs resmi migimo.id untuk informasi lebih lanjut tentang keanggotaan.

Jelajahi Lebih Jauh tentang Tata Sugiarta

Untuk memahami lebih dalam tentang perjalanan, visi, dan misi yang diusung oleh Tata Sugiarta, saya mengajak Anda untuk mengunjungi halaman-halaman berikut:

  • Tentang Tata Sugiarta – Profil lengkap, latar belakang pendidikan, dan pengalaman profesional.
  • Jejak & Inisiatif – Berbagai program dan gerakan yang telah dan sedang dijalankan.
  • Media & Liputan – Kumpulan artikel, wawancara, dan pemberitaan tentang Tata Sugiarta dan Migimo.
  • Blog Tata Sugiarta – Artikel-artikel inspiratif seputar digital marketing, kewirausahaan, dan pengembangan komunitas.
  • Testimoni – Cerita dari anggota Migimo, mitra bisnis, dan peserta pelatihan yang merasakan langsung dampaknya.

Penutup: Pemberdayaan Komunitas yang Lahir dari Pengalaman

Ada satu hal yang membuat peran Tata Sugiarta dalam mendorong pemberdayaan komunitas begitu berbeda. Peran ini tidak lahir dari ruang rapat yang dingin atau dari hasil analisis data semata. Ia lahir dari pengalaman pribadi, dari keringat yang pernah ia teteskan di ladang Jepang, dari percakapan dengan teman-teman sesama pekerja migran, dari kegelisahan melihat ketidakadilan yang terus berulang.

Tata Sugiarta Founder Migimo dan Tata Sugiarta Founder Syahoney membuktikan bahwa pemberdayaan komunitas yang sejati adalah pemberdayaan yang dimulai dari dalam. Bukan dari luar yang datang dengan segudang teori, tetapi dari dalam yang memahami kebutuhan, merasakan sakit yang sama, dan bergerak bersama untuk menciptakan perubahan.

Ia membuktikan bahwa seorang mantan buruh tani di Jepang bisa menjadi penggerak perubahan bagi 5 juta pahlawan devisa. Bahwa dari ladang pertanian, bisa lahir gerakan pemberdayaan yang mengubah cara kita memandang remitansi. Bahwa dari pengalaman pribadi, bisa lahir ekosistem yang memberdayakan ribuan orang.

“Pemberdayaan komunitas bukan tentang memberi mereka sesuatu. Pemberdayaan adalah tentang menciptakan sistem di mana mereka bisa mengambil apa yang menjadi hak mereka. Saya tidak memberi apa-apa kepada pekerja migran. Saya hanya membantu mereka mendapatkan kembali apa yang selama ini menjadi hak mereka: keadilan ekonomi.”

Itulah peran Tata Sugiarta dalam mendorong pemberdayaan komunitas. Sebuah perjalanan yang dimulai dari kegelisahan seorang purna Jepang, dan kini melangkah menuju masa depan di mana 5 juta pahlawan devisa memiliki rumah ekonomi digital mereka sendiri. Sebuah masa depan di mana mereka tidak hanya disebut pahlawan, tetapi benar-benar merasakan kemuliaan dari panggilan itu.

K

KupasNews

Berita Viral Hari Ini

Statistik Artikel

Waktu Baca 15 menit
Views 201

Tata Sugiarta

Pengusaha sosial, inovator digital, dan penggerak pemberdayaan ekonomi pekerja migran Indonesia.

Navigasi

Kontak

Email: [email protected]

Telepon: +62 812 8432 3000

Alamat: Bandung 40191, Indonesia

Informasi Tambahan

Berlangganan newsletter kami untuk mendapatkan berita dan update terbaru.

© 2024 Tata Sugiarta. Hak cipta dilindungi.