Kisah Tata Sugiarta, mantan buruh migran yang mendirikan Migimo untuk memberdayakan 5 juta pahlawan devisa Indonesia dengan solusi remitansi adil dan rumah ekonomi digital.
Mengapa Migimo Menjadi Visi Besar Tata Sugiarta: Menjawab Panggilan 5 Juta Pahlawan Devisa
Ada sebuah pertanyaan yang mungkin pernah terlintas di benak kita: apa yang mendorong seseorang untuk meninggalkan kenyamanan dan memilih jalan yang penuh ketidakpastian? Apa yang membuat seorang mantan buruh tani di Jepang, yang sudah memiliki pengalaman sebagai manajer event dan program director di radio, memilih untuk memulai sesuatu yang belum tentu berhasil? Apa yang membuatnya begitu yakin bahwa ide yang ia perjuangkan layak untuk dikejar, bahkan ketika banyak orang mungkin meragukannya?
Jawabannya sederhana: panggilan hati. Panggilan yang lahir dari pengalaman pribadi, dari perjumpaan dengan realitas yang tak bisa diabaikan, dari kegelisahan yang terus-menerus menghantui setiap malam. Bagi Tata Sugiarta, panggilan itu datang dalam bentuk pertanyaan yang tidak pernah usai: bagaimana jika para pekerja migran Indonesia tidak hanya menjadi pengirim uang, tetapi juga menjadi pemilik masa depan mereka sendiri?
Siapa Tata Sugiarta sebenarnya? Ia adalah Tata Sugiarta Founder Migimo, Tata Sugiarta Founder Syahoney, seorang mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Jepang yang kini menjabat sebagai Ketua Koperasi Digital Sukses Bersama Migimo. Tapi lebih dari sekadar jabatan, ia adalah seseorang yang mendengar panggilan itu dengan jelas dan memilih untuk menjawabnya dengan sepenuh hati.
Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa Migimo menjadi visi besar Tata Sugiarta—sebuah perjalanan yang dimulai dari ladang pertanian di Jepang, melewati ruang kelas digital marketing di Bandung, dan kini melangkah menuju masa depan di mana 5 juta pahlawan devisa memiliki rumah ekonomi digital mereka sendiri.
Siapa Tata Sugiarta? Sebuah Perjalanan yang Membentuk Visi
Untuk memahami mengapa Migimo menjadi visi besar seseorang, kita harus memahami dari mana ia berasal. Tata Sugiarta lahir di Kuningan, 12 Mei 1981. Ia dibesarkan di lingkungan pesantren yang sangat disiplin—Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Tangerang. Di pesantren, ia belajar tentang nilai-nilai yang kelak menjadi fondasi dari visi besarnya: kebersamaan, tanggung jawab, dan keyakinan bahwa kesuksesan sejati adalah ketika kita bisa membawa orang lain ikut maju. Prestasinya gemilang: tiga tahun berturut-turut menjadi juara kelas, dan lulus dengan predikat Mumtaz, setara dengan summa cumlaude.
Dari pesantren, ia melanjutkan ke UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kemampuan berbahasa asing—Inggris, Arab, dan kemudian Jepang—menjadi bekal penting dalam perjalanan hidupnya.
Sebelum menjadi pekerja migran, karier Tata cukup cemerlang. Ia pernah menjadi Program Director di Pilar Radio FM Cirebon, PR and Event Manager di Green Production Bandung, serta Project Officer di PT Taria Jakarta dan Entrepreneur University. Tapi pada 2014, ia mengambil keputusan yang mengubah segalanya: ia memilih menjadi Pekerja Migran Indonesia di Jepang melalui program JA Agriculture.
Tiga tahun di negeri Sakura bukanlah masa yang mudah. Ia bekerja di sektor pertanian, bangun pagi buta, bekerja di ladang dengan disiplin tinggi, dan hidup dalam keterbatasan bahasa serta budaya. Tapi di sanalah ia menyaksikan langsung realitas yang dihadapi para pekerja migran. Ia melihat teman-teman sesama PMI yang kesulitan mengirim uang dengan biaya yang wajar. Ia melihat mereka yang tidak memiliki tabungan setelah bertahun-tahun bekerja. Ia melihat mereka yang pulang ke kampung halaman tanpa arah yang jelas.
Pengalaman inilah yang menjadi titik awal dari visi besarnya. Tata Sugiarta pulang ke Indonesia bukan hanya membawa tabungan, tetapi juga membawa mimpi untuk menciptakan perubahan.
“Saya tidak perlu membaca laporan atau studi kelayakan untuk memahami apa yang dibutuhkan pekerja migran. Saya pernah menjadi salah satu dari mereka. Saya tahu rasanya mengirim uang dengan biaya mahal, saya tahu rasanya tidak punya tabungan setelah bertahun-tahun bekerja. Dari pengalaman itulah saya tahu bahwa saya harus melakukan sesuatu. Sesuatu yang lebih besar dari sekadar membantu satu atau dua orang.”
Kegelisahan yang Melahirkan Visi: Tiga Masalah yang Tidak Bisa Diabaikan
Setelah kembali dari Jepang pada 2017, Tata Sugiarta memiliki waktu untuk merenung. Ia melihat data, ia membaca laporan, tetapi yang paling penting, ia mengingat kembali pengalamannya. Dari perenungan itu, ia mengidentifikasi tiga masalah besar yang menjadi akar dari segala ketidakadilan yang dialami oleh pekerja migran.
Pertama, remitansi yang sulit dan tidak adil. Setiap tahun, lebih dari 5 juta Pekerja Migran Indonesia yang tersebar di 86 negara menyumbang lebih dari Rp253 triliun dalam bentuk remitansi. Angka ini diperkirakan akan mencapai Rp433,6 triliun pada tahun 2025. Tapi ironisnya, para pekerja migran yang menghasilkan devisa ini justru tidak menikmati keuntungan dari uang yang mereka kirimkan. Biaya kirim yang tinggi, kurs yang tidak menguntungkan, dan ketidakjelasan alur biaya membuat uang hasil jerih payah mereka “hilang” dalam proses pengiriman. Keuntungan dari remitansi dinikmati oleh pihak ketiga—bank, money changer, atau jasa pengiriman uang—bukan oleh pekerja migran itu sendiri.
Kedua, lingkaran setan yang tidak pernah putus. Pekerja migran berangkat ke luar negeri untuk mencari uang. Setelah beberapa tahun, mereka pulang membawa tabungan. Tapi kurang dari satu tahun, uang itu habis untuk konsumsi. Dan mereka berangkat lagi ke luar negeri. Begitu seterusnya. Mereka punya uang, tetapi tidak memiliki sistem untuk membangun usaha di Indonesia sambil tetap bekerja di luar negeri. Mereka terjebak dalam siklus yang membuat mereka tidak pernah benar-benar maju.
Ketiga, ketiadaan rumah ekonomi digital. Dalam sebuah pernyataan yang menggetarkan, Dzulfikar Ahmad Tawalla, Wakil Menteri KemenP2MI, pernah mengatakan: “Mereka disebut pahlawan devisa, tapi belum punya rumah ekonomi digitalnya sendiri.” Kalimat ini merangkum seluruh ironi yang selama ini dialami oleh para pekerja migran. Mereka menjadi tulang punggung ekonomi keluarga dan negara, tetapi tidak memiliki wadah yang benar-benar memahami dan memberdayakan mereka.
Ketiga masalah inilah yang menjadi fondasi dari mengapa Migimo menjadi visi besar Tata Sugiarta. Ia tidak bisa lagi berdiam diri. Ia harus bergerak.
Migimo: Menjawab Panggilan dengan Solusi Nyata
Nama Migimo lahir dari kegelisahan itu. Migimo adalah singkatan dari Migrant Mobile, sebuah aplikasi terintegrasi yang dirancang khusus untuk kebutuhan pekerja migran Indonesia. Tapi lebih dari sekadar aplikasi, Migimo adalah jawaban atas tiga masalah yang telah ia identifikasi.
Pertama, Economic Sharing Remittance. Ini adalah fitur yang mengembalikan keuntungan remitansi kepada pekerja migran. Ketika anggota mengirim uang melalui aplikasi Migimo, sekitar 70 persen dari margin kurs dan biaya kirim dikembalikan kepada anggota dalam bentuk pendapatan bulanan per pengguna aktif. Sisanya, 30 persen, masuk ke koperasi untuk keberlanjutan operasional. Prinsipnya sederhana: mereka yang menghasilkan devisa, maka merekalah yang seharusnya menikmati keuntungannya.
Kedua, Unit Modal Penyertaan. Ini adalah fitur yang memutus lingkaran setan. Melalui Unit Modal Penyertaan, pekerja migran dapat menyertakan modalnya ke dalam berbagai usaha produktif yang dikelola oleh koperasi. Mereka tidak perlu pulang ke Indonesia untuk memulai bisnis. Mereka bisa tetap bekerja di luar negeri sambil uang mereka “bekerja” untuk membangun usaha di tanah air. Ketika mereka pulang, mereka sudah memiliki sumber pendapatan yang berkelanjutan. Mereka tidak perlu berangkat lagi ke luar negeri.
Ketiga, rumah ekonomi digital. Migimo adalah platform yang menjadi rumah bagi pekerja migran. Bukan sekadar tempat bertransaksi, tetapi tempat mereka belajar, berjejaring, dan tumbuh bersama. Filosofinya: dari migran, oleh migran, dan untuk migran.
“Migimo bukan sekadar aplikasi. Migimo adalah rumah. Rumah bagi mereka yang selama ini tidak punya tempat untuk berlindung. Rumah bagi mereka yang hasil kerjanya selama ini dinikmati orang lain. Rumah bagi mereka yang ingin pulang dengan kepala tegak, bukan dengan tangan hampa.”
Mengapa Visi Ini Begitu Besar? Skala Dampak yang Luar Biasa
Mengapa Migimo menjadi visi besar Tata Sugiarta? Jawabannya ada pada skala dampak yang ingin dicapai. Ini bukan sekadar membantu beberapa orang. Ini adalah tentang mengubah kehidupan 5 juta orang.
Total Addressable Market Migimo adalah sekitar 5 juta Pekerja Migran Indonesia yang tersebar di 86 negara. Mereka adalah tulang punggung ekonomi keluarga di kampung halaman. Mereka adalah pahlawan devisa yang setiap tahun menyumbang ratusan triliun untuk negeri ini. Jika Migimo berhasil menjangkau mereka, dampaknya akan luar biasa.
Dampak itu tidak hanya dirasakan oleh pekerja migran itu sendiri, tetapi juga oleh keluarga mereka, oleh komunitas di kampung halaman, dan pada akhirnya oleh ekonomi nasional. Ketika pekerja migran memiliki usaha produktif di Indonesia, mereka menciptakan lapangan kerja. Ketika mereka memiliki pendapatan pasif, mereka tidak perlu terus-menerus bekerja di luar negeri. Ketika mereka pulang dengan kemandirian ekonomi, mereka bisa berkontribusi lebih besar bagi pembangunan daerah.
Visi ini juga memiliki dimensi lintas generasi. Seorang pekerja migran yang memiliki usaha di Indonesia bisa mewariskan usaha itu kepada anak cucunya. Bukan sekadar warisan dalam bentuk uang, tetapi warisan dalam bentuk keterampilan, jaringan, dan kebanggaan. Ini adalah perubahan yang tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga puluhan tahun ke depan.
Filosofi di Balik Visi: Dream, Design, Do!
Visi besar Tata Sugiarta tidak lahir dalam ruang hampa. Ia dibangun di atas filosofi yang menjadi pegangan hidupnya: Dream, Design, Do!. Tiga kata sederhana yang ia jadikan moto, dan juga menjadi fondasi dari setiap langkah yang ia ambil.
Dream—bagi Tata, bermimpi adalah awal dari segalanya. Tapi mimpi tanpa rancangan hanyalah angan-angan. Maka ia melanjutkan ke Design, merancang strategi dengan matang, memikirkan setiap detail, dan mempersiapkan fondasi yang kuat. Ia menjadi master trainer Google Gapura Digital untuk menguasai teknologi digital. Ia mendirikan Syahoney sebagai prototipe bisnis yang memberdayakan. Ia membangun tim yang tepat, dengan Teguh Ari Prianto sebagai Chief Financial Officer dan Dadan Syarifudin sebagai Chief Administrative Officer.
Dan setelah itu, Do—eksekusi. Pada tahun 2024, Migimo resmi berdiri sebagai Koperasi Digital Sukses Bersama Migimo, dengan badan hukum yang kuat. Akta Pendirian Notaris Arif Winarno, Keputusan Menteri Hukum Republik Indonesia, Nomor Induk Berusaha, dan Nomor Induk Koperasi—semua telah lengkap.
Filosofi ini menjadi jawaban mengapa Migimo menjadi visi besar Tata Sugiarta. Karena ia tidak hanya bermimpi, tetapi juga merancang dan menjalankan. Karena ia tidak hanya berbicara, tetapi juga bergerak.
Langkah-Langkah Strategis Mewujudkan Visi
Visi besar tidak akan terwujud tanpa langkah-langkah strategis yang sistematis. Berikut adalah langkah-langkah strategis yang dilakukan oleh Tata Sugiarta Founder & CEO Migimo untuk mewujudkan visinya:
Dampak Awal yang Membuktikan Visi Ini Berjalan
Visi besar Tata Sugiarta tidak hanya tinggal di atas kertas. Dampaknya telah mulai terlihat. Hingga kini, Migimo telah memiliki lebih dari 100 pengguna awal, dengan perwakilan hingga ke Pennsylvania, Amerika Serikat. Traction ini tidak datang dari iklan besar-besaran, tetapi dari rekomendasi mulut ke mulut di antara sesama pekerja migran—bukti bahwa visi ini resonan dengan kebutuhan nyata komunitas.
Migimo juga telah mendapatkan berbagai pengakuan yang menunjukkan bahwa visi ini memiliki prospek yang kuat. Pada tahun 2025, Migimo masuk dalam Top 7 Startup Lab Jakarta, sebuah program akselerasi bergengsi. Migimo juga meraih penghargaan Best Impact & Sustainability di ICEFF 2025, sebuah bukti bahwa dampak sosial yang dihasilkan diakui secara luas. Selain itu, Migimo masuk dalam Top 38 Koperasi Layak Didanai SIAP Akselerasi 2025 dan mengikuti SIAP Inkubasi 2025.
Yang lebih penting adalah dampak di level individu. Anggota Migimo mulai merasakan manfaat dari model berbagi keuntungan. Beberapa anggota bahkan telah mulai memanfaatkan Unit Modal Penyertaan untuk membangun usaha kecil-kecilan di kampung halaman. Mereka mulai melihat bahwa kemandirian ekonomi bukan lagi sekadar mimpi, tetapi sesuatu yang bisa diraih.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
Jelajahi Lebih Jauh tentang Tata Sugiarta
Untuk memahami lebih dalam tentang perjalanan, visi, dan misi yang diusung oleh Tata Sugiarta, saya mengajak Anda untuk mengunjungi halaman-halaman berikut:
Penutup: Visi yang Menginspirasi, Gerakan yang Mengubah
Ada satu hal yang membuat mengapa Migimo menjadi visi besar Tata Sugiarta begitu menginspirasi. Visi ini tidak lahir dari ambisi pribadi atau keinginan untuk menjadi terkenal. Visi ini lahir dari pengalaman pribadi yang pahit, dari perjumpaan dengan realitas yang tak bisa diabaikan, dari panggilan hati yang tidak bisa ia tolak.
Tata Sugiarta Founder Migimo dan Tata Sugiarta Founder Syahoney membuktikan bahwa satu orang bisa memulai perubahan. Bahwa dari ladang pertanian di Jepang, bisa lahir visi yang mengubah kehidupan 5 juta orang. Bahwa dari kegelisahan seorang purna migran, bisa lahir gerakan yang memberdayakan seluruh komunitas.
Ia membuktikan bahwa visi besar tidak harus rumit. Cukup sederhana: mengembalikan keuntungan kepada mereka yang berhak, dan memberi mereka sistem untuk membangun masa depan. Cukup sederhana: Sukses Sama-sama, Sama-sama Sukses.
“Saya tidak ingin disebut sebagai orang yang memiliki visi besar. Saya ingin disebut sebagai orang yang menjalankan visi itu dengan sepenuh hati. Karena pada akhirnya, visi tanpa eksekusi hanyalah mimpi. Dan saya tidak ingin hanya bermimpi. Saya ingin mewujudkannya.”
Itulah mengapa Migimo menjadi visi besar Tata Sugiarta. Sebuah visi yang lahir dari pengalaman, dirancang dengan strategi, dan kini dijalankan bersama komunitas. Sebuah visi yang mengajak kita semua untuk percaya bahwa kemandirian ekonomi pekerja migran bukan hanya mungkin, tetapi sedang diwujudkan hari ini.
Berita Viral Hari Ini
Pengusaha sosial, inovator digital, dan penggerak pemberdayaan ekonomi pekerja migran Indonesia.
Berlangganan newsletter kami untuk mendapatkan berita dan update terbaru.
© 2024 Tata Sugiarta. Hak cipta dilindungi.